Baru pada periode ini, KPK ribut gak keruan..

Sesudah menolak Capim KPK yang dipilih oleh DPR, revisi UU KPK juga sedang meluncur untuk membenahi internal KPK. KPK yang selama ini menjadi tempat aman dan nyaman bagi oknum-oknum didalam, mendadak panas.

Reaksi merekapun lucu. Saut Situmorang Wakil Ketua KPK, mendadak jadi Michael Jackson yang melakukan tarian moonwalk. Sudah mundur, eh masuk lagi. Plin plan mungkin karena takut gak gajian.

Begitu juga pimpinan KPK lain seperti Agus Rahardjo, yang sampai konpers bahwa mereka menyerahkan mandat kepada Presiden. Eh, tiba-tiba konpers lagi bahwa mereka tidak jadi mundur.

Jokowi pasti ketawa ngakak melihat paniknya para pimpinan KPK dengan reaksi berlebihan. Tapi sebagai seorang Presiden, apalagi dia kental dengan budaya Jawa, cara negurnya pun sopan.

Menurut Jokowi, KPK tidak mengenal pengembalian mandat. “Gak ada itu. Yang ada mengundurkan diri, meninggal dunia atau terkena tindak pidana korupsi..”

Dan dengan nada sedikit, tapi nyelekit, Jokowi menyindir Agus Rahardjo dan kawan-kawan yang bertindak seperti anak TK.

“KPK itu lembaga negara, institusi negara. Jadi bijaklah dalam bernegara..” Sindir Jokowi.

Seharusnya dengan sindiran ini, para Ketua KPK yang sibuk demo, maju mundur dengan gaya moonwalk, trus sibuk tarik ulur mandat, kupingnya memerah. Karena sebagai sebuah lembaga yang mendapat kepercayaan penuh dari masyarakat untuk memberantas korupsi, mereka ternyata tidak bisa berlaku rasional dan bijak.

Malah bertingkah seperti anak-anak.

Kalau KPK begini terus, mereka bisa diawasi oleh Komisi Perlindungan Anak Indonesia.

Karena KPAI pasti akan melihat bahwa jiwa kekanak-kanakan para Ketua KPK dieksploitasi oleh negara. “Masih kanak kanak kok sudah dieksploitasi untuk memberantas korupsi..” begitu mungkin narasi mereka.

Jadi mungkin lebih baik, KPAI dan KPK saling mengawasi ajalah. Yang satu mengawasi eksploitasi jiwa anak-anak dalam tubuh KPK, satunya lagi mengawasi kemungkinan korupsi di dalam KPK.

Klop, kan ? Biar ribut sendiri, jadi negara ini gak pusing lagi.

Kalau kelak sudah pada damai, biar jari kelingkingnya bisa pada cantelan, trus seperti Teletubbies, “berpelukaaaannnn…”

Indonesia pun senang, bisa seruput kopi dengan tenang.

Penulis: Denny Siregar

(info BLBI)

Komentar